Kamis, 10 Agustus 2017

Cerita Rakyat Asli Dari Kabupaten Bengkayang (Desa Magmagan Karya Kec. Lumar)

Batu Tangguk
oleh: Hafizly
Dahulu kala, di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri yang dikenal dengan sebutan Pak Galeh dan Bu Galeh. Pak Galeh merupakan orang yang ulet dan gigih dalam bekerja. Keuletannya ini sudah terlihat sejak dia remaja sehingga banyak orang yang mengagumi Pak Galeh karena kegigihannya dalam bekerja tersebut. Begitupun Bu Galeh, ia juga merupakan seorang wanita sekaligus istri yang berbakti kepada suami. Hampir setiap hari Bu Galeh selalu setia merawat dan membantu suaminya bekerja.
Dalam kesehariannya mereka hanyalah orang biasa yang bekerja sebagai petani. Namun karena keuletannya dalam bekerja, kehidupan Pak Galeh dan Bu Galeh terbilang makmur. Mereka memiliki kebun dan sawah yang luas sehingga pendapatan mereka pada saat musim panen sangat melimpah.
Dibalik kesuksesan Pak Galeh dan Bu galeh tersebut, ada hal yang dirasakan kurang bagi mereka. Pak Galeh dan Bu Galeh tidak dikaruniai anak walaupun mereka telah lumayan lama menikah. Terkadang terbesit di benak Pak Galeh untuk mengangkat anak karena kerinduannya yang mendalam akan kehadiran sosok seorang anak dalam hidupnya. “Apakah mungkin ada orang yang mau memberikan anaknya untuk diangkat olehku?” gumamnya dalam hati.
Pada suatu malam Pak Galeh mengeluh kepada istrinya akan keadaan yang dialaminya ini. “Mungkihkah Tuhan tidak menyayangi kita Bu? Padahal sudah setiap hari aku berdo’a agar kita diberikan anak, tapi sampai sekarang tidak juga kita dikaruniai anak ”ucap Pak Galeh dengan nada kesal. “Iya pak, aku juga berpikir begitu. Mungkin Tuhan memang tidak menyayangi kita” timpal istrinya. Keresahan yang dirasakan oleh pasangan suami istri ini justru membuat mereka membenci Tuhan dan menyalahkan keadaan. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini sangat tidak adil bagi mereka berdua.
Karena keadaan yang seperti itu pula akhirnya membuat sikap Pak Galeh dan istrinya menjadi berubah kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka jadi mudah tersinggung dan menganggap bahwa setiap orang di desa selalu mencemooh mereka karena tidak memiliki anak. Orang-orang di desa yang awalnya biasa-biasa saja akhirnya merasakan ada keanehan pada pasangan suami istri ini. Padahal sebelumnya mereka berdua lumayan ramah terhadap para tetangganya. Bahkan sekarang sikap Pak Galeh dan Bu Galeh justru acuh dan tak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka jadi tidak mau bergaul dan tidak mau mendengarkan nasihat atau masukan dari orang lain. Akhirnya mereka berduapun mengasingkan diri dari kehidupan luar.
Pada suatu hari, Bu galeh mendapatkan kabar bahwa ada suatu tempat yang dikatakan angker dan di sana terdapat penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apapun. Tempat itu terdapat di ujung sungai yang letaknya di dalam hutan. Begitu mendengarkan kabar yang masih belum pasti tersebut Bu Galeh sangat antusias dan bergegas untuk memberitahukan suaminya. “Pak! Bapak!” teriak Bu Galeh. “Iya Bu, ada apa?” sahut Pak Galeh. “Begini Pak, tadi Ibu tidak sengaja mendengarkan cerita dari orang-orang kampung bahwa di ujung sungai yang ada di hutan itu ada penunggu yang katanya bisa mengabulkan permintaan apa saja Pak”. “Benarkah begitu Bu?” jawab Pak Galeh sambil sedikit terkejut. “Apakah Bapak memikirkan hal yang sama dengan Ibu?” tanya Bu Galeh kembali. “Tentu saja Bu, kalau begitu berarti ada harapan bagi kita untuk mendapatkan anak dengan pergi ke sana”, jawab Pak Galeh. Dengan hati yang penuh harapan merekapun akhirnya menyiapkan diri untuk berangkat keesokan harinya.
Malam harinya Pak Galeh berpikir untuk sekalian mencari ikan di sungai tersebut karena di sungai tersebut memang terkenal memiliki ikan yang banyak dan besar. Kemudian dia bertanya kepada istrinya mengenai rencananya tersebut, “Bu, bagaimana jika besok sekalian kita membawa tangguk[1]untuk menangkap ikan di sungai itu?”. “Tapi Pak, kata orang-orang sungai itu angker dan kita tidak boleh menangkap ikan yang ada di disitu”, jawab Bu Galeh. “Ibu masih percaya sama perkataan orang-orang kampung yang sudah merendahkan kita itu? Sudah jangan didengarkan, yang penting kita bisa punya anak sekaligus bisa dapat ikan yang banyak untuk makan kita nanti”, Pak Galeh meyakinkan. Setelah berpikir sejenak akhirnya Bu Galeh menyetujui ajakan suaminya tersebut.
Keesokan harinya, ketika matahari belum sempat menyinari bumi dan ayam belum sempat berkokok, Pak Galeh dan istrinya telah terjaga dari tidurnya dengan hati yang gembira untuk menyiapkan perbekalan dan persiapan barang-barang yang akan mereka bawa menuju ujung sungai nanti. Perjalanan yang jauh tidak dipikirkan oleh mereka karena kepala mereka sudah dipenuhi oleh keinginan yang besar untuk memiliki anak. Tanpa berlama-lama merekapun akhirnya berangkat dengan membawa bekal dan tangguk untuk menangkap ikan. Walaupun hari masih gelap, mereka tetap melangkahkan kaki dengan penuh semangat tanpa menghiraukan larangan-larangan yang dikatakan oleh warga kampung.
Setelah berjalan cukup jauh, pasangan suami istri tersebut akhirnya sampai di ujung sungai. Belum sempat mereka beristirahat, perhatian mereka tertuju pada sungai yang di dalamnya terdapat begitu banyak ikan yang besar-besar dan jumlahnya sangat banyak. Seketika hal itu membuat keduanya menjadi kalap dan langsung turun ke sungai untuk menangkap semua ikan yang ada. Mereka tidak lagi mempedulikan larangan yang ada di tempat tersebut. Tempat yang merupakan hutan adat dan telah menjadi tempat keramat sejak lama mereka abaikan dan justru dengan tamak menangkap ikan di sungai tersebut.
Ketika telah mendapatkan ikan yang banyak Pak Galeh dan Bu Galeh segera naik ke permukaan dan dengan hati yang senang mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat hasil tangkapan mereka. Mereka lupa bahwa mereka telah melanggar hukum adat di tempat yang telah dikeramatkan sejak lama. Tak lama, langit menjadi gelap dan disertai dengan petir yang menggelegar. Setelah itu datanglah sebuah petir yang dahsyat yang menghantam Pak Galeh dan Bu Galeh. Seketika itu pula kedua suami istri itu langsung menjadi batu dengan posisi masih memegang tangguk yang mereka gunakan untuk menangkap ikan tadi. Akhirnya sampai saat ini patung kedua suami istri tersebut masih ada di daerah Desa Magmagan Karya. Kemudian sungai tempat patung itu berada dikenal sebagai Sungai Segaleh. Begitu juga patung Pak Galeh dan Bu Galeh juga disebut orang-orang sebagai Batu Tangguk.





[1] Alat untuk menangkap ikan yang dibuat dari anyaman bambu

Cerpen Bertema Kepahlawanan

Liang Sang Veteran Perang
Oleh: Hafizly

            Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Mbah Sujiwo dalam Usia 93 Tahun di rumah kediamannya pada pukul 07.30 pagi. Diharapkan seluruh warga bisa datang ke rumah almarhum untuk melaksanakan fardhu kifayah. Semoga amal ibadah beliau selama di dunia diterima di sisi Allah SWT. Aamiin…” Begitulah bunyi pengumuman yang disampaikan oleh seseorang yang menggunakan pengeras suara di masjid desa yang kala itu sontak membuat seluruh warga kampung menjadi cukup tersentak. Sebuah kabar duka yang menandakan kepulangan salah seorang warga desa Suka Mulya yaitu Mbah Sujiwo.
Innalillah, ternyata mbah Sujiwo sudah sampai pada batasnya” ucap Ridho yang kala itu tengah nongkrong di warung kopi bersama temannya Sapto.
“Iya, yang namanya ajal memang tidak bisa ditolak” jawab Sapto.
“Ya sudah ayo kita ke rumahnya buat bantu-bantu masangin tenda.”
“Ayo.”
Seketika itu pula Ridho langsung mengambil selembar uang sepuluh ribu untuk membayar dua gelas kopi yang tadi mereka minum. Setelah itu mereka segera melaju ke rumah kediaman keluarga Mbah Sujiwo menggunakan sepeda motor.
            Dalam perjalanan menuju rumah duka, Ridho dan Sapto sempat terlibat sebuah perbincangan mengenai almarhum Mbah Sujiwo. Sebagaimana wajarnya membicarakan seseorang yang telah meninggal, tentu yang mereka bicarakan adalah tentang perbuatan beliau yang selama ini pernah beliau lakukan semasa hidupnya. Apalagi Mbah Sujiwo merupakan salah seorang yang dianggap sebagai tetua di desa.
“Seingatku Mbah Sujiwo orang paling tua di desa kita kan Sap?” ucap Ridho membuka pembicaraan.
“Iya Dho, aku rasa juga dia yang paling tua di desa ini. Selain dia siapa lagi? Paling mbah Paijo, itupun umurnya kuperkirakan baru 70-an.”
“Benar juga kamu Sap, berarti sekarang sudah tidak ada lagi mantan pahlawan di desa kita.”
“Maksud kamu apa Dho?” tanya Sapto bingung.
“Memangnya kamu tidak tahu.”
“Apa?”
“Mbah Sujiwo kan mantan pejuang di zaman penjajahan dulu Sap, dia salah satu orang yang ikut berperang melawan Jepang dan Belanda waktu negara kita dijajah dulu.”
“Yang benar kamu Dho?”
“Ya iyalah, makanya aku tadi bilang dia mantan pahlawan di desa kita. Waktu aku kecil dia sering bercerita tentang perjuangannya selama perang melawan penjajah. Bahkan kalau dia bercerita sampai-sampai suka lupa waktu saking semangatnya dia bercerita tentang peperangan dulu.”
Sapto hanya manggut-manggut menanggapi pembicaraan Ridho sambil sesekali meminta Ridho melanjutkan ceritanya, “Lalu Dho?”
Dengan semangatnya Ridho kembali menceritakan segala tentang kenangannya bersama Mbah Sujiwo sewaktu beliau masih hidup, “selain suka bercerita mengenai perjuangannya waktu melawan penjajah, Mbah Sujiwo juga biasanya tidak segan memperlihatkan seragam dan senjatanya yang dipakai untuk berperang dulu kepadaku. Yang hebatnya lagi Sap, seragamnya dirawat dengan sangat baik sampai-sampai tak dibiarkannya setetes debupun hinggap di seragamnya itu.”
“Aku bisa bayangkan betapa bangganya menjadi seorang pejuang seperti Mbah Sujiwo” sahut Sapto kagum.
“Betul Sap, sampai sekarang saja aku masih mengagumi sosok Mbah Sujiwo.”
            Sebenarnya bagi Sapto kepergian Mbah Sujiwo tidak begitu terasa menyedihkan baginya sebab dia memang kurang dekat dengan orang tua tersebut. Berbeda halnya dengan Ridho yang merupakan tetangga dekat dengan Mbah Sujiwo. Walaupun terlihat tenang-tenang saja namun dalam hatinya Ridho merasa sangat kehilangan akan sosok Mbah Sujiwo yang dianggapnya sudah seperti kakeknya sendiri.
            Sakit yang diderita oleh Mbah Sujiwo selama satu tahun terakhir membuatnya tak mampu lagi beraktivitas seperti biasa. Dari bangun tidur hingga tidur kembali ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Makan, minum bahkan buang air pun ia lakukan di tempat tidurnya karena memang kondisi fisik yang memaksanya tidak bisa lagi melakukan hal-hal tersebut seperti biasanya. Karena kondisinya yang seperti itu pulalah yang membuat hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir orang-orang desa sering mengunjungi rumahnya untuk memberikan rasa simpati dan sedikit bantuan kepadanya. Sebagai salah satu tetua desa sudah wajar baginya mendapatkan perhatian dari seluruh warga desa ketika sakit.
            Mengingat kondisi ekonomi Mbah Sujiwo dan keluarganya yang terbilang pas-pasan, maka dia maupun keluarganya tidak bisa berbuat banyak untuk menangani sakit yang diderita oleh Mbah Sujiwo. Ditambah lagi dengan usia yang semakin renta membuat tubuhnya menjadi ladang bagi berbagai penyakit. Memang tak bisa dipungkiri bahwa faktor usia yang hampir mencapai seabad itu menjadikan Mbah Sujiwo sering sekali sakit-sakitan. Namun setiap kali sakit ia selalu menolak untuk dibawa berobat dengan alasan ia tidak apa-apa. “Nanti cuma buang-buang uang, lebih baik uangnya buat keperluan sehari-hari saja” begitu ucapnya dengan suara khas orang tua.
            Sebagai tetangga yang baik, Ridho juga sering mengunjungi Mbah Sujiwo ketika sakit. Entah itu hanya sekedar mengunjungi maupun sembari mengantarkan makanan titipan orang tuanya. Itulah kenapa Ridho merasakan kehilangan ketika mengetahui bahwa Mbah Sujiwo telah dipanggil menghadap sang Khalik. Kini tidak ada lagi sosok orang yang dianggapnya sejarawan desa itu.
            Sesampainya mereka berdua di depan rumah Mbah Sujiwo, terlihat rumahnya telah ramai dikunjungi para pelayat yang sebagian besar merupakan warga desa. Selain itu hanya ada sepelintir orang dari desa lain yang memang mengenal sosok Mbah Sujiwo. Dengan sedikit terburu-buru Ridho turun dari sepeda motornya dan langsung masuk ke dalam rumah Mbah Sujiwo ditemani oleh Sapto yang mengikuti dari belakang. Yang pertama kali dilakukannya adalah menghampiri Pak Paiman yang merupakan anak bungsu dari Mbah Sujiwo yang selama ini setia merawat ayahnya hingga hari ini.
“Mas Paiman, aku turut berduka ya mas” ucap Ridho dengan nada sendu sambil menahan kesedihannya.
“Makasih ya dek Ridho, kamu udah cukup banyak membantu saya selama merawat bapak.”
“Mbah Jiwo sudah saya anggap seperti kakek sendiri mas.”
“Iya, sekali lagi makasih.”
Setelah memberikan rasa simpatinya, Ridho keluar dan ikut membantu merapikan kursi-kursi untuk para pelayat yang akan berdatangan. Sementara Sapto yang dari tadi hanya mengikuti Ridho juga mau tidak mau ikut membantu merapikan kursi yang ada. Namun sejenak Sapto mengingat tentang cerita Ridho mengenai masa lalu Mbah Sujiwo yang sempat diceritakannya di perjalanan tadi.
“Kasihan juga ya melihat kondisi Mbah Sujiwo, masa mudanya ia habiskan untuk membela tanah air tapi masa tuanya harus dijalani dengan keadaan seperti ini. Harusnya dia juga patut mendapat gelar pahlawan dan dimakamkan di makam pahlawan sana.”
Sambil mengangkat dua buah kursi plastik Ridho menanggapi perkataan Sapto dengan halus sembari tersenyum, “Ya begitulah Sap, aku juga tidak habis pikir. Sebagai mantan veteran perang sudah selayaknya Mbah Sujiwo mendapatkan perhatian dari pemerintah di masa tuanya, tunjangan hidup serta penghormatan di saat-saat terakhirnya seperti ini.”
“Wajar saja anak-anak zaman sekarang tidak mengerti dengan yang namanya pahlawan negara, mungkin yang mereka tahu hanya pahlawan-pahlawan super yang sering ada di film dan televisi seperti Superman, Spiderman, ya yang seperti itulah.”
“Aku setuju Sap” sahut Ridho. “Apalagi sekarang tayangan-tayangan di televisi juga tidak pernah menayangkan tentang sejarah-sejarah ataupun tentang pahlawan-pahlawan negara ini yang dulunya mati-matian berjuang untuk meraih kemerdekaan” lanjutnya.
Sapto yang dari tadi tenang menjadi bersemangat, sambil menepuk pahanya sendiri ia menanggapi perkataan Ridho, “Justru itu, malah kemarin ada artis yang meninggal terus diberitakan secara besar-besaran di televisi. Padahal itu cuma artis biasa yang terkenalnya juga karena sensasi, seharusnya orang-orang seperti Mbah Sujiwo ini yang menjadi perhatian. Heran aku.”
            Memang miris jika melihat latar belakang seorang Mbah Sujiwo yang merupakan mantan pejuang atau veteran perang ketika di masa tuanya harus berkutat dengan kemiskinan. Padahal berkat sedikit jasanya pulalah negara ini bisa meraih kemerdekaan. Saat seorang selebriti yang hanya bisa mengumbar sensasi untuk meraih ketenaran begitu diperjuangkan dan disorot besar-besaran oleh media sosial ketika ia sakit, justru seorang veteran perang seperti Mbah Sujiwo yang telah mempertaruhkan jiwa raganya demi negara ini justru harus berjuang melawan penyakitnya dalam kemiskinan tanpa perhatian sedikitpun dari negara.
            Kini sang veteran perang itu telah tiada, ia pergi dengan segenap kebanggaan dalam dirinya karena telah menjadi bagian dari sejarah negara ini walaupun namanya tidak pernah ada dalam buku sejarah maupun nama-nama jalan. Hanya sebuah nisan sederhana yang bertuliskan namanya yang menjadi satu-satunya bukti sejarah mengenai dirinya. Dalam liang sempit di antara puluhan makam di TPU desa itu mayatnya akan disemayamkan dan setelah liang itu tertutup kemudian tertancap nisan serta bertabur kembang maka saat itu pula cerita tentang kepahlawanan Mbah Sujiwo akan berakhir.


Doyot, 9 agustus 2017

Selasa, 08 Agustus 2017

Cerpen Bertema Hari Kemerdekaan

Impianku Tak Semerdeka Negaraku
Oleh: Hafizly

Derap langkah para Paskibra yang tengah berlatih di halaman sekolah sore itu seakan mampu menyita ratusan mata yang berada di sekitar. Kekompakan gerak kaki dan keserasian dalam setiap gerakannya membuat siapapun yang tengah melintas pasti akan teralihkan perhatiaannya. Dengan postur tubuh yang rata-rata hampir sama, mereka dengan penuh semangat memperagakan berbagai formasi yang akan dibentuk dalam pengibaran hari kemerdekaan kelak. Walaupun bercucuran keringat di sekujur tubuh mereka, hal tersebut seakan tak mampu menghalangi keserasian yang tercipta dari langkah kaki yang bergema merangkai suatu ritme dalam hentakan demi hentakannya.
Aku yang merupakan salah satu anggota Paskibra sekolah tentu tak ingin melewatkan satu kesempatan pun dalam menyaksikan sesi demi sesi dari latihan mereka. Apalagi di antara puluhan Paskibra yang sedang berlatih tersebut ada salah satu sahabatku yang terpilih menjadi bagian dari pengibar bendera di Kabupaten nantinya. Dialah Deni Suherman, seorang pria berpostur tubuh tinggi untuk ukuran anak SMA yaitu 171 cm. Tentu hal ini pula yang membuatnya menjadi mudah untuk terpilih saat seleksi Paskibra tingkat Kabupaten beberapa waktu lalu. Sedangkan jika dibandingkan denganku yang hanya mempunyai tinggi badan 153 cm tentu sangat bertolak belakang. Namun karena pertemanan kami yang telah terjalin sejak sekolah dasar maka kami berduapun seakan sudah seperti dua buah roda sepeda yang kemana-mana hampir selalu bersama.
“Rajin juga ya kamu ngelihatin mereka latihan?” tanya salah seorang wanita yang sejenak membuyarkan perhatianku. Ternyata wanita tersebut merupakan Arini, salah satu teman sekolah yang berbeda kelas denganku.
“Oh kamu Rin, kebetulan aja lagi suntuk di rumah makanya aku ke sini” jawabku sekenanya.
“Tapi kayaknya hampir tiap hari aku lihat kamu nongkrong di sini sambil lihat mereka latihan?”
“Ya, nggak apa kan? Sekalian cuci mata, kan lumayan hehe.”
“Dasar cowok, nggak dimana-mana semuanya sama” celetuk Arini dengan nada kesal sembari menepuk pundakku.
“Terus kamu ngapain ke sini?” tanyaku ke Arini.
“Kebetulan aja lewat Dim, pas lihat kamu ada di sini ya aku samperin. Kasihan juga ngelihatin anak orang duduk sendirian nggak ada yang nemenin, ntar kesurupan kan bahaya hahaha.”
“Sembarangan aja kamu hehe.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Arini akhirnya terpaksa meninggalkanku karena harus menjemput adiknya yang baru saja pulang les bahasa inggris. Kembali aku duduk menyendiri di salah satu sudut sekolah yang tampak sepi tanpa ada manusia lain di sini. Hanya suara teriakan dari para Paskibra yang sedang berlatih dan pekikan klakson dari berbagai kendaraan di jalan raya yang mampu mengisi kekosongan tersebut. Mungkin Arini bahkan siswa yang lain tak banyak yang tahu bahwa menjadi Paskibra merupakan impianku sejak lama. Berdiri mengenakan baju warna putih dengan sepatu pantofel dan memakai sarung tangan putih pasti akan membuatku menjadi terlihat gagah di mata siapapun. Ditambah dengan bendera merah putih yang kami kibarkan tentu akan membuatku menjadi pembicaraan dimana-mana.
Impianku ini sudah kupatenkan sejak aku SD, dimana ketika itu aku dengan takjub melihat serangkaian upacara hari kemerdekaan di televisi yang seketika membuatku ingin menjadi seperti pasukan pengibar bendera tersebut. Saat itu yang ku tahu hanyalah menjadi seorang Paskibra pasti akan membuatku tampak keren. Lantas aku pun bergegas memberitahu sahabatku Deni bahwa aku bertekad untuk menjadi seorang Paskibra suatu saat nanti.
“Bagaimanapun juga aku harus bisa mengibarkan bendera pusaka di istana kepresidenan suatu saat nanti Den, ini adalah mimpi yang akan aku wujudkan” ucapku pada Deni.
Sebagaimana halnya anak kecil yang baru menemukan super hero favoritnya, keinginanku untuk menjadi seorang Paskibraka nasional saat itu sangat besar. Tak pernah terpikirkan olehku hal apa saja yang harus aku miliki untuk bisa melangkah ke tahap tersebut. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah aku harus bisa membawa dan mengibarkan sang merah putih hingga ke puncak tiang bendera. Karena itulah ketika memasuki SMA aku memutuskan untuk mengikuti ekstra kurikuler Paskibra. Bahkan aku memaksa Deni untuk ikut menemaniku masuk ke ekskul tersebut. Beruntung aku memiliki sahabat yang sangat setia seperti Deni, dia dengan senang hati menemaniku untuk mendaftar di ekskul Paskibra sekolah.
Seiring berjalannya waktu, sore demi sore telah kulalui meninggalkan jejak dan keringat di setiap jengkal halaman sekolah tempatku dan rekan-rekan yang lain berlatih. Berbagai pembicaraan yang menyebut-nyebut namaku mulai terdengar di telingaku. Perbincangan yang sedikit banyak membuat telingaku merasa risih. Ya, aku menjadi perbincangan di sekolah karena kekonyolanku yang nekad masuk ekskul Paskibra sedangkan tinggi badanku yang sangat tidak mumpuni. Aku merupakan anggota paling rendah dalam ekskul. Awalnya hal ini tak ku hiraukan, bahkan aku hanya menganggap hal itu hanya kicauan tak berarti yang keluar dari lidah orang-orang yang iri. Namun lama kelamaan mereka semakin sporadis dalam membicarakannya bahkan terkesan menghina.
“Mana bisa kurcaci ngibarin bendera? Yang ada malah ikut ketarik hahahaha” kata salah seorang siswa yang tak ku kenal.
Hinaan mereka semakin menjadi-jadi ketika aku dengan percaya diri ikut mendaftar untuk tes seleksi Paskibra di tingkat Kabupaten.
“Udah tahu nggak bakalan lolos tapi masih nekat ikut seleksi” ucap seorang senior.
“Mungkin dia mau nyari sensasi kali” sahut temannya yang lain.
Mendengar ucapan mereka yang semakin tak beretika membuatku sempat ingin berontak. Namun hal itu urung kulakukan karena hanya akan membuat martabatku semakin jatuh di mata orang-orang. Ini adalah mimpiku, mimpi yang akan kuwujudkan. Dan semua cacian maupun hinaan mereka hanyalah sebagian dari rintangan yang harus kulewati demi menggapai impianku ini.
Hanya Deni yang selalu menyemangatiku ketika mendapatkan cacian dari orang-orang di sekolah. Tak jarang pula ia membelaku saat ada yang secara terang-terangan mencibirku. Hal ini membuatku sedikit merasa tenang karena masih ada yang mempercayaiku untuk menggapai mimpiku ini.
“Sudahlah Dim, mereka itu cuma iri dengan kegigihanmu. Tak perlu kau hiraukan omongan orang-orang seperti itu” ucap Deni padaku.
“Terima kasih Den, kau memang sahabat terbaikku. Aku tak tahu apa jadinya jika tidak ada kamu.”
“Jangan berlebihan begitu, kan sudah sepatutnya aku membela dan menyemangati sahabatku. Ya kan?”
“Iya, sekali lagi terima kasih.”
Kepercayaan diriku ini pada awalnya masih begitu besar hingga pada suatu hari dimana saat anggota Paskibra yang akan mengikuti seleksi dikumpulkan dalam suatu ruangan. Saat itu telah berkumpul para senior dan alumni yang cukup banyak.
“Maksud kami mengumpulkan kalian di ruangan ini adalah untuk mengumumkan nama-nama yang akan ikut seleksi Paskibra di Kabupaten” ucap salah seorang alumni. Seketika itu pula aku yang tengah memperhatikan menjadi tegang. Kuperhatikan teman-teman yang lain juga memunculkan ekspresi yang sama denganku. Anggota yang ada di ruangan saat itu hanya merupakan orang-orang yang ikut mendaftar untuk mengikuti seleksi. Jadi tidak semua anggota berada di ruangan tersebut.
            Satu persatu nama disebut, dan pada akhirnya sampailah pada masa ketika senior yang menyebutkan nama tersebut berhenti. Seketika itu pula tatapan mata teman-teman yang ada di ruangan tersebut tertuju padaku. Dari semua nama yang disebutkan hanya namaku yang tidak disebut. Itu menandakan bahwa aku tidak terpilih untuk mengikuti seleksi Paskibra di Kabupaten. Aku sempat menunduk menahan rasa kecewa dan malu yang tercampur menjadi satu.
Seketika itu pula Deni menghampiriku dan berkata “kamu nggak apa-apa kan Dim?”
“Iya, aku nggap apa-apa.”
Sontak beberapa ingatan tentang cibiran dan cacian dari orang-orang yang selama ini menghinaku muncul. Seakan terjatuh dari ketinggian, aku akhirnya secara perlahan menyadari bahwa perkataan mereka selama ini memang benar. Dengan sedikit kecewa aku melanjutkan pembicaraanku dengan Deni.
“Mungkin apa yang orang-orang selama ini bicarakan memang benar, aku tidak seharusnya berada di sini.”
“Maksudmu apa Dim? Jangan berbicara seperti itu. Kan masih ada tahun depan” jawab Deni.
“Bukan begitu Den, aku baru sadar bahwa semua yang aku cita-citakan selama ini sangat mustahil untuk terwujud. Impian yang begitu kudambakan sedari dulu hanyalah sebatas mimpi yang tak mungkin terwujud.”
“Hanya segini perjuanganmu Dim? Aku kira kau lebih hebat dari ini, ternyata aku salah.”
“Aku yang salah Den, aku terlalu percaya bahwa setiap orang bebas untuk bermimpi. Aku kira semua mimpi bisa terwujud jika kita bersungguh-sungguh. Namun ternyata aku telah salah, tetap saja aku tidak bisa melawan realita kehidupan yang ada. Sekarang mimpiku hanyalah sebatas mimpi, tidak akan pernah menjadi kenyataan.”
Dengan penuh kekesalan akupun meninggalkan ruangan. Tak ada yang mencegatku, mungkin mereka sadar bahwa hal ini cukup membuatku kecewa.
            Kembali aku teringat perkataan beberapa motivator maupun pembicara di televisi yang biasa ku tonton, mereka dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa setiap impian bisa terwujud jika kita bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Dan sekarang aku menyadari bahwa hal itu hanya bualan belaka. Mungkin mereka tak pernah mengalami nasib seperti yang aku rasakan saat ini. Sebuah mimpi yang begitu aku dambakan dan begitu kuperjuangkan untuk bisa terwujud, akhirnya kandas hanya karena faktor fisik. Bisa jadi selama ini aku telah terhipnotis akan suatu keinginan semu semata. Hingga akhirnya sekarang aku baru tersadarkan dari pengaruh hipnotis tersebut.
            Jika aku menyadari dari awal tentu aku tak akan dicemooh oleh orang lain. Aku terlambat menyadari bahwa segala sesuatu yang ingin digapai tetap memiliki syarat yang harus dipenuhi. Jika salah satu syarat tersebut tak mampu dilaksanakan maka terkubur sudah harapan untuk menggapainya.
            Negara ini telah mampu merdeka dari para penjajah, namun ternyata hal itu tak berpengaruh padaku dan mungkin sebagian orang-orang lain yang bernasib sama sepertiku. Impianku ternyata tak semerdeka negaraku. Setiap orang yang memiliki mimpi suatu saat akan menyadari bahwa mimpi mereka akan terkekang oleh beberapa peraturan yang tak bisa mereka lawan. Kemudian secara perlahan orang-orang itu akan mengubur mimpi mereka dalam-dalam. Mimpi mereka terjajah oleh aturan-aturan yang telah dibuat dan menyebabkan mereka patah sayap sehingga mereka tak mampu terbang untuk menggapai mimpinya. Jika saja pada masa penjajahan dulu setiap orang memiliki aturan tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh untuk berjuang, mungkin hingga saat ini kemerdekaan belum bisa dirasakan oleh seluruh bangsa ini.


Doyot, 6 agustus 2017