Kamis, 10 Agustus 2017

Cerpen Bertema Kepahlawanan

Liang Sang Veteran Perang
Oleh: Hafizly

            Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Mbah Sujiwo dalam Usia 93 Tahun di rumah kediamannya pada pukul 07.30 pagi. Diharapkan seluruh warga bisa datang ke rumah almarhum untuk melaksanakan fardhu kifayah. Semoga amal ibadah beliau selama di dunia diterima di sisi Allah SWT. Aamiin…” Begitulah bunyi pengumuman yang disampaikan oleh seseorang yang menggunakan pengeras suara di masjid desa yang kala itu sontak membuat seluruh warga kampung menjadi cukup tersentak. Sebuah kabar duka yang menandakan kepulangan salah seorang warga desa Suka Mulya yaitu Mbah Sujiwo.
Innalillah, ternyata mbah Sujiwo sudah sampai pada batasnya” ucap Ridho yang kala itu tengah nongkrong di warung kopi bersama temannya Sapto.
“Iya, yang namanya ajal memang tidak bisa ditolak” jawab Sapto.
“Ya sudah ayo kita ke rumahnya buat bantu-bantu masangin tenda.”
“Ayo.”
Seketika itu pula Ridho langsung mengambil selembar uang sepuluh ribu untuk membayar dua gelas kopi yang tadi mereka minum. Setelah itu mereka segera melaju ke rumah kediaman keluarga Mbah Sujiwo menggunakan sepeda motor.
            Dalam perjalanan menuju rumah duka, Ridho dan Sapto sempat terlibat sebuah perbincangan mengenai almarhum Mbah Sujiwo. Sebagaimana wajarnya membicarakan seseorang yang telah meninggal, tentu yang mereka bicarakan adalah tentang perbuatan beliau yang selama ini pernah beliau lakukan semasa hidupnya. Apalagi Mbah Sujiwo merupakan salah seorang yang dianggap sebagai tetua di desa.
“Seingatku Mbah Sujiwo orang paling tua di desa kita kan Sap?” ucap Ridho membuka pembicaraan.
“Iya Dho, aku rasa juga dia yang paling tua di desa ini. Selain dia siapa lagi? Paling mbah Paijo, itupun umurnya kuperkirakan baru 70-an.”
“Benar juga kamu Sap, berarti sekarang sudah tidak ada lagi mantan pahlawan di desa kita.”
“Maksud kamu apa Dho?” tanya Sapto bingung.
“Memangnya kamu tidak tahu.”
“Apa?”
“Mbah Sujiwo kan mantan pejuang di zaman penjajahan dulu Sap, dia salah satu orang yang ikut berperang melawan Jepang dan Belanda waktu negara kita dijajah dulu.”
“Yang benar kamu Dho?”
“Ya iyalah, makanya aku tadi bilang dia mantan pahlawan di desa kita. Waktu aku kecil dia sering bercerita tentang perjuangannya selama perang melawan penjajah. Bahkan kalau dia bercerita sampai-sampai suka lupa waktu saking semangatnya dia bercerita tentang peperangan dulu.”
Sapto hanya manggut-manggut menanggapi pembicaraan Ridho sambil sesekali meminta Ridho melanjutkan ceritanya, “Lalu Dho?”
Dengan semangatnya Ridho kembali menceritakan segala tentang kenangannya bersama Mbah Sujiwo sewaktu beliau masih hidup, “selain suka bercerita mengenai perjuangannya waktu melawan penjajah, Mbah Sujiwo juga biasanya tidak segan memperlihatkan seragam dan senjatanya yang dipakai untuk berperang dulu kepadaku. Yang hebatnya lagi Sap, seragamnya dirawat dengan sangat baik sampai-sampai tak dibiarkannya setetes debupun hinggap di seragamnya itu.”
“Aku bisa bayangkan betapa bangganya menjadi seorang pejuang seperti Mbah Sujiwo” sahut Sapto kagum.
“Betul Sap, sampai sekarang saja aku masih mengagumi sosok Mbah Sujiwo.”
            Sebenarnya bagi Sapto kepergian Mbah Sujiwo tidak begitu terasa menyedihkan baginya sebab dia memang kurang dekat dengan orang tua tersebut. Berbeda halnya dengan Ridho yang merupakan tetangga dekat dengan Mbah Sujiwo. Walaupun terlihat tenang-tenang saja namun dalam hatinya Ridho merasa sangat kehilangan akan sosok Mbah Sujiwo yang dianggapnya sudah seperti kakeknya sendiri.
            Sakit yang diderita oleh Mbah Sujiwo selama satu tahun terakhir membuatnya tak mampu lagi beraktivitas seperti biasa. Dari bangun tidur hingga tidur kembali ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Makan, minum bahkan buang air pun ia lakukan di tempat tidurnya karena memang kondisi fisik yang memaksanya tidak bisa lagi melakukan hal-hal tersebut seperti biasanya. Karena kondisinya yang seperti itu pulalah yang membuat hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir orang-orang desa sering mengunjungi rumahnya untuk memberikan rasa simpati dan sedikit bantuan kepadanya. Sebagai salah satu tetua desa sudah wajar baginya mendapatkan perhatian dari seluruh warga desa ketika sakit.
            Mengingat kondisi ekonomi Mbah Sujiwo dan keluarganya yang terbilang pas-pasan, maka dia maupun keluarganya tidak bisa berbuat banyak untuk menangani sakit yang diderita oleh Mbah Sujiwo. Ditambah lagi dengan usia yang semakin renta membuat tubuhnya menjadi ladang bagi berbagai penyakit. Memang tak bisa dipungkiri bahwa faktor usia yang hampir mencapai seabad itu menjadikan Mbah Sujiwo sering sekali sakit-sakitan. Namun setiap kali sakit ia selalu menolak untuk dibawa berobat dengan alasan ia tidak apa-apa. “Nanti cuma buang-buang uang, lebih baik uangnya buat keperluan sehari-hari saja” begitu ucapnya dengan suara khas orang tua.
            Sebagai tetangga yang baik, Ridho juga sering mengunjungi Mbah Sujiwo ketika sakit. Entah itu hanya sekedar mengunjungi maupun sembari mengantarkan makanan titipan orang tuanya. Itulah kenapa Ridho merasakan kehilangan ketika mengetahui bahwa Mbah Sujiwo telah dipanggil menghadap sang Khalik. Kini tidak ada lagi sosok orang yang dianggapnya sejarawan desa itu.
            Sesampainya mereka berdua di depan rumah Mbah Sujiwo, terlihat rumahnya telah ramai dikunjungi para pelayat yang sebagian besar merupakan warga desa. Selain itu hanya ada sepelintir orang dari desa lain yang memang mengenal sosok Mbah Sujiwo. Dengan sedikit terburu-buru Ridho turun dari sepeda motornya dan langsung masuk ke dalam rumah Mbah Sujiwo ditemani oleh Sapto yang mengikuti dari belakang. Yang pertama kali dilakukannya adalah menghampiri Pak Paiman yang merupakan anak bungsu dari Mbah Sujiwo yang selama ini setia merawat ayahnya hingga hari ini.
“Mas Paiman, aku turut berduka ya mas” ucap Ridho dengan nada sendu sambil menahan kesedihannya.
“Makasih ya dek Ridho, kamu udah cukup banyak membantu saya selama merawat bapak.”
“Mbah Jiwo sudah saya anggap seperti kakek sendiri mas.”
“Iya, sekali lagi makasih.”
Setelah memberikan rasa simpatinya, Ridho keluar dan ikut membantu merapikan kursi-kursi untuk para pelayat yang akan berdatangan. Sementara Sapto yang dari tadi hanya mengikuti Ridho juga mau tidak mau ikut membantu merapikan kursi yang ada. Namun sejenak Sapto mengingat tentang cerita Ridho mengenai masa lalu Mbah Sujiwo yang sempat diceritakannya di perjalanan tadi.
“Kasihan juga ya melihat kondisi Mbah Sujiwo, masa mudanya ia habiskan untuk membela tanah air tapi masa tuanya harus dijalani dengan keadaan seperti ini. Harusnya dia juga patut mendapat gelar pahlawan dan dimakamkan di makam pahlawan sana.”
Sambil mengangkat dua buah kursi plastik Ridho menanggapi perkataan Sapto dengan halus sembari tersenyum, “Ya begitulah Sap, aku juga tidak habis pikir. Sebagai mantan veteran perang sudah selayaknya Mbah Sujiwo mendapatkan perhatian dari pemerintah di masa tuanya, tunjangan hidup serta penghormatan di saat-saat terakhirnya seperti ini.”
“Wajar saja anak-anak zaman sekarang tidak mengerti dengan yang namanya pahlawan negara, mungkin yang mereka tahu hanya pahlawan-pahlawan super yang sering ada di film dan televisi seperti Superman, Spiderman, ya yang seperti itulah.”
“Aku setuju Sap” sahut Ridho. “Apalagi sekarang tayangan-tayangan di televisi juga tidak pernah menayangkan tentang sejarah-sejarah ataupun tentang pahlawan-pahlawan negara ini yang dulunya mati-matian berjuang untuk meraih kemerdekaan” lanjutnya.
Sapto yang dari tadi tenang menjadi bersemangat, sambil menepuk pahanya sendiri ia menanggapi perkataan Ridho, “Justru itu, malah kemarin ada artis yang meninggal terus diberitakan secara besar-besaran di televisi. Padahal itu cuma artis biasa yang terkenalnya juga karena sensasi, seharusnya orang-orang seperti Mbah Sujiwo ini yang menjadi perhatian. Heran aku.”
            Memang miris jika melihat latar belakang seorang Mbah Sujiwo yang merupakan mantan pejuang atau veteran perang ketika di masa tuanya harus berkutat dengan kemiskinan. Padahal berkat sedikit jasanya pulalah negara ini bisa meraih kemerdekaan. Saat seorang selebriti yang hanya bisa mengumbar sensasi untuk meraih ketenaran begitu diperjuangkan dan disorot besar-besaran oleh media sosial ketika ia sakit, justru seorang veteran perang seperti Mbah Sujiwo yang telah mempertaruhkan jiwa raganya demi negara ini justru harus berjuang melawan penyakitnya dalam kemiskinan tanpa perhatian sedikitpun dari negara.
            Kini sang veteran perang itu telah tiada, ia pergi dengan segenap kebanggaan dalam dirinya karena telah menjadi bagian dari sejarah negara ini walaupun namanya tidak pernah ada dalam buku sejarah maupun nama-nama jalan. Hanya sebuah nisan sederhana yang bertuliskan namanya yang menjadi satu-satunya bukti sejarah mengenai dirinya. Dalam liang sempit di antara puluhan makam di TPU desa itu mayatnya akan disemayamkan dan setelah liang itu tertutup kemudian tertancap nisan serta bertabur kembang maka saat itu pula cerita tentang kepahlawanan Mbah Sujiwo akan berakhir.


Doyot, 9 agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar