Liang Sang Veteran Perang
Oleh: Hafizly
“Innalillahi wa Inna ilaihi
Raji’un, telah berpulang ke Rahmatullah
Mbah Sujiwo dalam Usia 93 Tahun di rumah kediamannya pada pukul 07.30 pagi.
Diharapkan seluruh warga bisa datang ke rumah almarhum untuk melaksanakan fardhu kifayah. Semoga amal ibadah
beliau selama di dunia diterima di sisi Allah SWT. Aamiin…” Begitulah bunyi pengumuman yang disampaikan oleh seseorang
yang menggunakan pengeras suara di masjid desa yang kala itu sontak membuat
seluruh warga kampung menjadi cukup tersentak. Sebuah kabar duka yang
menandakan kepulangan salah seorang warga desa Suka Mulya yaitu Mbah Sujiwo.
“Innalillah, ternyata mbah
Sujiwo sudah sampai pada batasnya” ucap Ridho yang kala itu tengah nongkrong di
warung kopi bersama temannya Sapto.
“Iya, yang namanya ajal memang tidak bisa ditolak” jawab Sapto.
“Ya sudah ayo kita ke rumahnya buat bantu-bantu masangin tenda.”
“Ayo.”
Seketika itu pula Ridho langsung mengambil
selembar uang sepuluh ribu untuk membayar dua gelas kopi yang tadi mereka
minum. Setelah itu mereka segera melaju ke rumah kediaman keluarga Mbah Sujiwo
menggunakan sepeda motor.
Dalam perjalanan menuju
rumah duka, Ridho dan Sapto sempat terlibat sebuah perbincangan mengenai
almarhum Mbah Sujiwo. Sebagaimana wajarnya membicarakan seseorang yang telah
meninggal, tentu yang mereka bicarakan adalah tentang perbuatan beliau yang
selama ini pernah beliau lakukan semasa hidupnya. Apalagi Mbah Sujiwo merupakan
salah seorang yang dianggap sebagai tetua di desa.
“Seingatku Mbah Sujiwo orang paling tua di desa kita kan Sap?” ucap
Ridho membuka pembicaraan.
“Iya Dho, aku rasa juga dia yang paling tua di desa ini. Selain dia
siapa lagi? Paling mbah Paijo, itupun umurnya kuperkirakan baru 70-an.”
“Benar juga kamu Sap, berarti sekarang sudah tidak ada lagi mantan
pahlawan di desa kita.”
“Maksud kamu apa Dho?” tanya Sapto bingung.
“Memangnya kamu tidak tahu.”
“Apa?”
“Mbah Sujiwo kan mantan pejuang di zaman penjajahan dulu Sap, dia salah
satu orang yang ikut berperang melawan Jepang dan Belanda waktu negara kita
dijajah dulu.”
“Yang benar kamu Dho?”
“Ya iyalah, makanya aku tadi bilang dia mantan pahlawan di desa kita.
Waktu aku kecil dia sering bercerita tentang perjuangannya selama perang
melawan penjajah. Bahkan kalau dia bercerita sampai-sampai suka lupa waktu
saking semangatnya dia bercerita tentang peperangan dulu.”
Sapto hanya manggut-manggut menanggapi pembicaraan Ridho sambil sesekali
meminta Ridho melanjutkan ceritanya, “Lalu Dho?”
Dengan semangatnya Ridho kembali menceritakan segala tentang kenangannya
bersama Mbah Sujiwo sewaktu beliau masih hidup, “selain suka bercerita mengenai
perjuangannya waktu melawan penjajah, Mbah Sujiwo juga biasanya tidak segan
memperlihatkan seragam dan senjatanya yang dipakai untuk berperang dulu
kepadaku. Yang hebatnya lagi Sap, seragamnya dirawat dengan sangat baik
sampai-sampai tak dibiarkannya setetes debupun hinggap di seragamnya itu.”
“Aku bisa bayangkan betapa bangganya menjadi seorang pejuang seperti
Mbah Sujiwo” sahut Sapto kagum.
“Betul Sap, sampai sekarang saja aku masih mengagumi sosok Mbah Sujiwo.”
Sebenarnya bagi Sapto
kepergian Mbah Sujiwo tidak begitu terasa menyedihkan baginya sebab dia memang
kurang dekat dengan orang tua tersebut. Berbeda halnya dengan Ridho yang merupakan
tetangga dekat dengan Mbah Sujiwo. Walaupun terlihat tenang-tenang saja namun
dalam hatinya Ridho merasa sangat kehilangan akan sosok Mbah Sujiwo yang
dianggapnya sudah seperti kakeknya sendiri.
Sakit yang diderita
oleh Mbah Sujiwo selama satu tahun terakhir membuatnya tak mampu lagi
beraktivitas seperti biasa. Dari bangun tidur hingga tidur kembali ia hanya
bisa berbaring di tempat tidur. Makan, minum bahkan buang air pun ia lakukan di
tempat tidurnya karena memang kondisi fisik yang memaksanya tidak bisa lagi
melakukan hal-hal tersebut seperti biasanya. Karena kondisinya yang seperti itu
pulalah yang membuat hampir setiap hari dalam beberapa bulan terakhir
orang-orang desa sering mengunjungi rumahnya untuk memberikan rasa simpati dan
sedikit bantuan kepadanya. Sebagai salah satu tetua desa sudah wajar baginya
mendapatkan perhatian dari seluruh warga desa ketika sakit.
Mengingat kondisi
ekonomi Mbah Sujiwo dan keluarganya yang terbilang pas-pasan, maka dia maupun
keluarganya tidak bisa berbuat banyak untuk menangani sakit yang diderita oleh Mbah
Sujiwo. Ditambah lagi dengan usia yang semakin renta membuat tubuhnya menjadi
ladang bagi berbagai penyakit. Memang tak bisa dipungkiri bahwa faktor usia
yang hampir mencapai seabad itu menjadikan Mbah Sujiwo sering sekali
sakit-sakitan. Namun setiap kali sakit ia selalu menolak untuk dibawa berobat
dengan alasan ia tidak apa-apa. “Nanti cuma buang-buang uang, lebih baik
uangnya buat keperluan sehari-hari saja” begitu ucapnya dengan suara khas orang
tua.
Sebagai tetangga yang
baik, Ridho juga sering mengunjungi Mbah Sujiwo ketika sakit. Entah itu hanya
sekedar mengunjungi maupun sembari mengantarkan makanan titipan orang tuanya. Itulah
kenapa Ridho merasakan kehilangan ketika mengetahui bahwa Mbah Sujiwo telah
dipanggil menghadap sang Khalik. Kini tidak ada lagi sosok orang yang dianggapnya
sejarawan desa itu.
Sesampainya mereka
berdua di depan rumah Mbah Sujiwo, terlihat rumahnya telah ramai dikunjungi
para pelayat yang sebagian besar merupakan warga desa. Selain itu hanya ada
sepelintir orang dari desa lain yang memang mengenal sosok Mbah Sujiwo. Dengan
sedikit terburu-buru Ridho turun dari sepeda motornya dan langsung masuk ke
dalam rumah Mbah Sujiwo ditemani oleh Sapto yang mengikuti dari belakang. Yang
pertama kali dilakukannya adalah menghampiri Pak Paiman yang merupakan anak
bungsu dari Mbah Sujiwo yang selama ini setia merawat ayahnya hingga hari ini.
“Mas Paiman, aku turut berduka ya mas” ucap Ridho dengan nada sendu
sambil menahan kesedihannya.
“Makasih ya dek Ridho, kamu udah cukup banyak membantu saya selama
merawat bapak.”
“Mbah Jiwo sudah saya anggap seperti kakek sendiri mas.”
“Iya, sekali lagi makasih.”
Setelah memberikan rasa simpatinya, Ridho
keluar dan ikut membantu merapikan kursi-kursi untuk para pelayat yang akan
berdatangan. Sementara Sapto yang dari tadi hanya mengikuti Ridho juga mau
tidak mau ikut membantu merapikan kursi yang ada. Namun sejenak Sapto mengingat
tentang cerita Ridho mengenai masa lalu Mbah Sujiwo yang sempat diceritakannya
di perjalanan tadi.
“Kasihan juga ya melihat kondisi Mbah Sujiwo, masa mudanya ia habiskan
untuk membela tanah air tapi masa tuanya harus dijalani dengan keadaan seperti
ini. Harusnya dia juga patut mendapat gelar pahlawan dan dimakamkan di makam
pahlawan sana.”
Sambil mengangkat dua buah kursi plastik Ridho menanggapi perkataan Sapto
dengan halus sembari tersenyum, “Ya begitulah Sap, aku juga tidak habis pikir.
Sebagai mantan veteran perang sudah selayaknya Mbah Sujiwo mendapatkan
perhatian dari pemerintah di masa tuanya, tunjangan hidup serta penghormatan di
saat-saat terakhirnya seperti ini.”
“Wajar saja anak-anak zaman sekarang tidak mengerti dengan yang namanya
pahlawan negara, mungkin yang mereka tahu hanya pahlawan-pahlawan super yang
sering ada di film dan televisi seperti Superman,
Spiderman, ya yang seperti itulah.”
“Aku setuju Sap” sahut Ridho. “Apalagi sekarang tayangan-tayangan di
televisi juga tidak pernah menayangkan tentang sejarah-sejarah ataupun tentang
pahlawan-pahlawan negara ini yang dulunya mati-matian berjuang untuk meraih
kemerdekaan” lanjutnya.
Sapto yang dari tadi tenang menjadi bersemangat, sambil menepuk pahanya
sendiri ia menanggapi perkataan Ridho, “Justru itu, malah kemarin ada artis
yang meninggal terus diberitakan secara besar-besaran di televisi. Padahal itu
cuma artis biasa yang terkenalnya juga karena sensasi, seharusnya orang-orang
seperti Mbah Sujiwo ini yang menjadi perhatian. Heran aku.”
Memang miris jika
melihat latar belakang seorang Mbah Sujiwo yang merupakan mantan pejuang atau
veteran perang ketika di masa tuanya harus berkutat dengan kemiskinan. Padahal
berkat sedikit jasanya pulalah negara ini bisa meraih kemerdekaan. Saat seorang
selebriti yang hanya bisa mengumbar sensasi untuk meraih ketenaran begitu
diperjuangkan dan disorot besar-besaran oleh media sosial ketika ia sakit,
justru seorang veteran perang seperti Mbah Sujiwo yang telah mempertaruhkan
jiwa raganya demi negara ini justru harus berjuang melawan penyakitnya dalam
kemiskinan tanpa perhatian sedikitpun dari negara.
Kini sang veteran
perang itu telah tiada, ia pergi dengan segenap kebanggaan dalam dirinya karena
telah menjadi bagian dari sejarah negara ini walaupun namanya tidak pernah ada
dalam buku sejarah maupun nama-nama jalan. Hanya sebuah nisan sederhana yang
bertuliskan namanya yang menjadi satu-satunya bukti sejarah mengenai dirinya.
Dalam liang sempit di antara puluhan makam di TPU desa itu mayatnya akan
disemayamkan dan setelah liang itu tertutup kemudian tertancap nisan serta
bertabur kembang maka saat itu pula cerita tentang kepahlawanan Mbah Sujiwo
akan berakhir.
Doyot, 9 agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar