Selasa, 08 Agustus 2017

Cerpen Bertema Hari Kemerdekaan

Impianku Tak Semerdeka Negaraku
Oleh: Hafizly

Derap langkah para Paskibra yang tengah berlatih di halaman sekolah sore itu seakan mampu menyita ratusan mata yang berada di sekitar. Kekompakan gerak kaki dan keserasian dalam setiap gerakannya membuat siapapun yang tengah melintas pasti akan teralihkan perhatiaannya. Dengan postur tubuh yang rata-rata hampir sama, mereka dengan penuh semangat memperagakan berbagai formasi yang akan dibentuk dalam pengibaran hari kemerdekaan kelak. Walaupun bercucuran keringat di sekujur tubuh mereka, hal tersebut seakan tak mampu menghalangi keserasian yang tercipta dari langkah kaki yang bergema merangkai suatu ritme dalam hentakan demi hentakannya.
Aku yang merupakan salah satu anggota Paskibra sekolah tentu tak ingin melewatkan satu kesempatan pun dalam menyaksikan sesi demi sesi dari latihan mereka. Apalagi di antara puluhan Paskibra yang sedang berlatih tersebut ada salah satu sahabatku yang terpilih menjadi bagian dari pengibar bendera di Kabupaten nantinya. Dialah Deni Suherman, seorang pria berpostur tubuh tinggi untuk ukuran anak SMA yaitu 171 cm. Tentu hal ini pula yang membuatnya menjadi mudah untuk terpilih saat seleksi Paskibra tingkat Kabupaten beberapa waktu lalu. Sedangkan jika dibandingkan denganku yang hanya mempunyai tinggi badan 153 cm tentu sangat bertolak belakang. Namun karena pertemanan kami yang telah terjalin sejak sekolah dasar maka kami berduapun seakan sudah seperti dua buah roda sepeda yang kemana-mana hampir selalu bersama.
“Rajin juga ya kamu ngelihatin mereka latihan?” tanya salah seorang wanita yang sejenak membuyarkan perhatianku. Ternyata wanita tersebut merupakan Arini, salah satu teman sekolah yang berbeda kelas denganku.
“Oh kamu Rin, kebetulan aja lagi suntuk di rumah makanya aku ke sini” jawabku sekenanya.
“Tapi kayaknya hampir tiap hari aku lihat kamu nongkrong di sini sambil lihat mereka latihan?”
“Ya, nggak apa kan? Sekalian cuci mata, kan lumayan hehe.”
“Dasar cowok, nggak dimana-mana semuanya sama” celetuk Arini dengan nada kesal sembari menepuk pundakku.
“Terus kamu ngapain ke sini?” tanyaku ke Arini.
“Kebetulan aja lewat Dim, pas lihat kamu ada di sini ya aku samperin. Kasihan juga ngelihatin anak orang duduk sendirian nggak ada yang nemenin, ntar kesurupan kan bahaya hahaha.”
“Sembarangan aja kamu hehe.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Arini akhirnya terpaksa meninggalkanku karena harus menjemput adiknya yang baru saja pulang les bahasa inggris. Kembali aku duduk menyendiri di salah satu sudut sekolah yang tampak sepi tanpa ada manusia lain di sini. Hanya suara teriakan dari para Paskibra yang sedang berlatih dan pekikan klakson dari berbagai kendaraan di jalan raya yang mampu mengisi kekosongan tersebut. Mungkin Arini bahkan siswa yang lain tak banyak yang tahu bahwa menjadi Paskibra merupakan impianku sejak lama. Berdiri mengenakan baju warna putih dengan sepatu pantofel dan memakai sarung tangan putih pasti akan membuatku menjadi terlihat gagah di mata siapapun. Ditambah dengan bendera merah putih yang kami kibarkan tentu akan membuatku menjadi pembicaraan dimana-mana.
Impianku ini sudah kupatenkan sejak aku SD, dimana ketika itu aku dengan takjub melihat serangkaian upacara hari kemerdekaan di televisi yang seketika membuatku ingin menjadi seperti pasukan pengibar bendera tersebut. Saat itu yang ku tahu hanyalah menjadi seorang Paskibra pasti akan membuatku tampak keren. Lantas aku pun bergegas memberitahu sahabatku Deni bahwa aku bertekad untuk menjadi seorang Paskibra suatu saat nanti.
“Bagaimanapun juga aku harus bisa mengibarkan bendera pusaka di istana kepresidenan suatu saat nanti Den, ini adalah mimpi yang akan aku wujudkan” ucapku pada Deni.
Sebagaimana halnya anak kecil yang baru menemukan super hero favoritnya, keinginanku untuk menjadi seorang Paskibraka nasional saat itu sangat besar. Tak pernah terpikirkan olehku hal apa saja yang harus aku miliki untuk bisa melangkah ke tahap tersebut. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah aku harus bisa membawa dan mengibarkan sang merah putih hingga ke puncak tiang bendera. Karena itulah ketika memasuki SMA aku memutuskan untuk mengikuti ekstra kurikuler Paskibra. Bahkan aku memaksa Deni untuk ikut menemaniku masuk ke ekskul tersebut. Beruntung aku memiliki sahabat yang sangat setia seperti Deni, dia dengan senang hati menemaniku untuk mendaftar di ekskul Paskibra sekolah.
Seiring berjalannya waktu, sore demi sore telah kulalui meninggalkan jejak dan keringat di setiap jengkal halaman sekolah tempatku dan rekan-rekan yang lain berlatih. Berbagai pembicaraan yang menyebut-nyebut namaku mulai terdengar di telingaku. Perbincangan yang sedikit banyak membuat telingaku merasa risih. Ya, aku menjadi perbincangan di sekolah karena kekonyolanku yang nekad masuk ekskul Paskibra sedangkan tinggi badanku yang sangat tidak mumpuni. Aku merupakan anggota paling rendah dalam ekskul. Awalnya hal ini tak ku hiraukan, bahkan aku hanya menganggap hal itu hanya kicauan tak berarti yang keluar dari lidah orang-orang yang iri. Namun lama kelamaan mereka semakin sporadis dalam membicarakannya bahkan terkesan menghina.
“Mana bisa kurcaci ngibarin bendera? Yang ada malah ikut ketarik hahahaha” kata salah seorang siswa yang tak ku kenal.
Hinaan mereka semakin menjadi-jadi ketika aku dengan percaya diri ikut mendaftar untuk tes seleksi Paskibra di tingkat Kabupaten.
“Udah tahu nggak bakalan lolos tapi masih nekat ikut seleksi” ucap seorang senior.
“Mungkin dia mau nyari sensasi kali” sahut temannya yang lain.
Mendengar ucapan mereka yang semakin tak beretika membuatku sempat ingin berontak. Namun hal itu urung kulakukan karena hanya akan membuat martabatku semakin jatuh di mata orang-orang. Ini adalah mimpiku, mimpi yang akan kuwujudkan. Dan semua cacian maupun hinaan mereka hanyalah sebagian dari rintangan yang harus kulewati demi menggapai impianku ini.
Hanya Deni yang selalu menyemangatiku ketika mendapatkan cacian dari orang-orang di sekolah. Tak jarang pula ia membelaku saat ada yang secara terang-terangan mencibirku. Hal ini membuatku sedikit merasa tenang karena masih ada yang mempercayaiku untuk menggapai mimpiku ini.
“Sudahlah Dim, mereka itu cuma iri dengan kegigihanmu. Tak perlu kau hiraukan omongan orang-orang seperti itu” ucap Deni padaku.
“Terima kasih Den, kau memang sahabat terbaikku. Aku tak tahu apa jadinya jika tidak ada kamu.”
“Jangan berlebihan begitu, kan sudah sepatutnya aku membela dan menyemangati sahabatku. Ya kan?”
“Iya, sekali lagi terima kasih.”
Kepercayaan diriku ini pada awalnya masih begitu besar hingga pada suatu hari dimana saat anggota Paskibra yang akan mengikuti seleksi dikumpulkan dalam suatu ruangan. Saat itu telah berkumpul para senior dan alumni yang cukup banyak.
“Maksud kami mengumpulkan kalian di ruangan ini adalah untuk mengumumkan nama-nama yang akan ikut seleksi Paskibra di Kabupaten” ucap salah seorang alumni. Seketika itu pula aku yang tengah memperhatikan menjadi tegang. Kuperhatikan teman-teman yang lain juga memunculkan ekspresi yang sama denganku. Anggota yang ada di ruangan saat itu hanya merupakan orang-orang yang ikut mendaftar untuk mengikuti seleksi. Jadi tidak semua anggota berada di ruangan tersebut.
            Satu persatu nama disebut, dan pada akhirnya sampailah pada masa ketika senior yang menyebutkan nama tersebut berhenti. Seketika itu pula tatapan mata teman-teman yang ada di ruangan tersebut tertuju padaku. Dari semua nama yang disebutkan hanya namaku yang tidak disebut. Itu menandakan bahwa aku tidak terpilih untuk mengikuti seleksi Paskibra di Kabupaten. Aku sempat menunduk menahan rasa kecewa dan malu yang tercampur menjadi satu.
Seketika itu pula Deni menghampiriku dan berkata “kamu nggak apa-apa kan Dim?”
“Iya, aku nggap apa-apa.”
Sontak beberapa ingatan tentang cibiran dan cacian dari orang-orang yang selama ini menghinaku muncul. Seakan terjatuh dari ketinggian, aku akhirnya secara perlahan menyadari bahwa perkataan mereka selama ini memang benar. Dengan sedikit kecewa aku melanjutkan pembicaraanku dengan Deni.
“Mungkin apa yang orang-orang selama ini bicarakan memang benar, aku tidak seharusnya berada di sini.”
“Maksudmu apa Dim? Jangan berbicara seperti itu. Kan masih ada tahun depan” jawab Deni.
“Bukan begitu Den, aku baru sadar bahwa semua yang aku cita-citakan selama ini sangat mustahil untuk terwujud. Impian yang begitu kudambakan sedari dulu hanyalah sebatas mimpi yang tak mungkin terwujud.”
“Hanya segini perjuanganmu Dim? Aku kira kau lebih hebat dari ini, ternyata aku salah.”
“Aku yang salah Den, aku terlalu percaya bahwa setiap orang bebas untuk bermimpi. Aku kira semua mimpi bisa terwujud jika kita bersungguh-sungguh. Namun ternyata aku telah salah, tetap saja aku tidak bisa melawan realita kehidupan yang ada. Sekarang mimpiku hanyalah sebatas mimpi, tidak akan pernah menjadi kenyataan.”
Dengan penuh kekesalan akupun meninggalkan ruangan. Tak ada yang mencegatku, mungkin mereka sadar bahwa hal ini cukup membuatku kecewa.
            Kembali aku teringat perkataan beberapa motivator maupun pembicara di televisi yang biasa ku tonton, mereka dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa setiap impian bisa terwujud jika kita bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Dan sekarang aku menyadari bahwa hal itu hanya bualan belaka. Mungkin mereka tak pernah mengalami nasib seperti yang aku rasakan saat ini. Sebuah mimpi yang begitu aku dambakan dan begitu kuperjuangkan untuk bisa terwujud, akhirnya kandas hanya karena faktor fisik. Bisa jadi selama ini aku telah terhipnotis akan suatu keinginan semu semata. Hingga akhirnya sekarang aku baru tersadarkan dari pengaruh hipnotis tersebut.
            Jika aku menyadari dari awal tentu aku tak akan dicemooh oleh orang lain. Aku terlambat menyadari bahwa segala sesuatu yang ingin digapai tetap memiliki syarat yang harus dipenuhi. Jika salah satu syarat tersebut tak mampu dilaksanakan maka terkubur sudah harapan untuk menggapainya.
            Negara ini telah mampu merdeka dari para penjajah, namun ternyata hal itu tak berpengaruh padaku dan mungkin sebagian orang-orang lain yang bernasib sama sepertiku. Impianku ternyata tak semerdeka negaraku. Setiap orang yang memiliki mimpi suatu saat akan menyadari bahwa mimpi mereka akan terkekang oleh beberapa peraturan yang tak bisa mereka lawan. Kemudian secara perlahan orang-orang itu akan mengubur mimpi mereka dalam-dalam. Mimpi mereka terjajah oleh aturan-aturan yang telah dibuat dan menyebabkan mereka patah sayap sehingga mereka tak mampu terbang untuk menggapai mimpinya. Jika saja pada masa penjajahan dulu setiap orang memiliki aturan tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh untuk berjuang, mungkin hingga saat ini kemerdekaan belum bisa dirasakan oleh seluruh bangsa ini.


Doyot, 6 agustus 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar