Impianku Tak
Semerdeka Negaraku
Oleh: Hafizly
Derap langkah para Paskibra yang tengah
berlatih di halaman sekolah sore itu seakan mampu menyita ratusan mata yang
berada di sekitar. Kekompakan gerak kaki dan keserasian dalam setiap gerakannya
membuat siapapun yang tengah melintas pasti akan teralihkan perhatiaannya.
Dengan postur tubuh yang rata-rata hampir sama, mereka dengan penuh semangat
memperagakan berbagai formasi yang akan dibentuk dalam pengibaran hari
kemerdekaan kelak. Walaupun bercucuran keringat di sekujur tubuh mereka, hal
tersebut seakan tak mampu menghalangi keserasian yang tercipta dari langkah
kaki yang bergema merangkai suatu ritme dalam hentakan demi hentakannya.
Aku yang merupakan salah satu anggota Paskibra
sekolah tentu tak ingin melewatkan satu kesempatan pun dalam menyaksikan sesi
demi sesi dari latihan mereka. Apalagi di antara puluhan Paskibra yang sedang
berlatih tersebut ada salah satu sahabatku yang terpilih menjadi bagian dari
pengibar bendera di Kabupaten nantinya. Dialah Deni Suherman, seorang pria
berpostur tubuh tinggi untuk ukuran anak SMA yaitu 171 cm. Tentu hal ini pula
yang membuatnya menjadi mudah untuk terpilih saat seleksi Paskibra tingkat Kabupaten
beberapa waktu lalu. Sedangkan jika dibandingkan denganku yang hanya mempunyai
tinggi badan 153 cm tentu sangat bertolak belakang. Namun karena pertemanan
kami yang telah terjalin sejak sekolah dasar maka kami berduapun seakan sudah
seperti dua buah roda sepeda yang kemana-mana hampir selalu bersama.
“Rajin juga ya kamu ngelihatin mereka latihan?” tanya salah seorang
wanita yang sejenak membuyarkan perhatianku. Ternyata wanita tersebut merupakan
Arini, salah satu teman sekolah yang berbeda kelas denganku.
“Oh kamu Rin, kebetulan aja lagi suntuk di rumah makanya aku ke sini”
jawabku sekenanya.
“Tapi kayaknya hampir tiap hari aku lihat kamu nongkrong di sini sambil
lihat mereka latihan?”
“Ya, nggak apa kan? Sekalian cuci mata, kan lumayan hehe.”
“Dasar cowok, nggak dimana-mana semuanya sama” celetuk Arini dengan nada
kesal sembari menepuk pundakku.
“Terus kamu ngapain ke sini?” tanyaku ke Arini.
“Kebetulan aja lewat Dim, pas lihat kamu ada di sini ya aku samperin.
Kasihan juga ngelihatin anak orang duduk sendirian nggak ada yang nemenin, ntar
kesurupan kan bahaya hahaha.”
“Sembarangan aja kamu hehe.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Arini akhirnya
terpaksa meninggalkanku karena harus menjemput adiknya yang baru saja pulang
les bahasa inggris. Kembali aku duduk menyendiri di salah satu sudut sekolah
yang tampak sepi tanpa ada manusia lain di sini. Hanya suara teriakan dari para
Paskibra yang sedang berlatih dan pekikan klakson dari berbagai kendaraan di
jalan raya yang mampu mengisi kekosongan tersebut. Mungkin Arini bahkan siswa
yang lain tak banyak yang tahu bahwa menjadi Paskibra merupakan impianku sejak
lama. Berdiri mengenakan baju warna putih dengan sepatu pantofel dan memakai
sarung tangan putih pasti akan membuatku menjadi terlihat gagah di mata
siapapun. Ditambah dengan bendera merah putih yang kami kibarkan tentu akan
membuatku menjadi pembicaraan dimana-mana.
Impianku ini sudah kupatenkan sejak aku SD,
dimana ketika itu aku dengan takjub melihat serangkaian upacara hari
kemerdekaan di televisi yang seketika membuatku ingin menjadi seperti pasukan
pengibar bendera tersebut. Saat itu yang ku tahu hanyalah menjadi seorang Paskibra
pasti akan membuatku tampak keren. Lantas aku pun bergegas memberitahu
sahabatku Deni bahwa aku bertekad untuk menjadi seorang Paskibra suatu saat
nanti.
“Bagaimanapun juga aku harus bisa mengibarkan bendera pusaka di istana
kepresidenan suatu saat nanti Den, ini adalah mimpi yang akan aku wujudkan”
ucapku pada Deni.
Sebagaimana halnya anak kecil yang baru
menemukan super hero favoritnya,
keinginanku untuk menjadi seorang Paskibraka nasional saat itu sangat besar.
Tak pernah terpikirkan olehku hal apa saja yang harus aku miliki untuk bisa
melangkah ke tahap tersebut. Yang ada di pikiranku saat itu hanyalah aku harus
bisa membawa dan mengibarkan sang merah putih hingga ke puncak tiang bendera.
Karena itulah ketika memasuki SMA aku memutuskan untuk mengikuti ekstra
kurikuler Paskibra. Bahkan aku memaksa Deni untuk ikut menemaniku masuk ke
ekskul tersebut. Beruntung aku memiliki sahabat yang sangat setia seperti Deni,
dia dengan senang hati menemaniku untuk mendaftar di ekskul Paskibra sekolah.
Seiring berjalannya waktu, sore demi sore telah
kulalui meninggalkan jejak dan keringat di setiap jengkal halaman sekolah
tempatku dan rekan-rekan yang lain berlatih. Berbagai pembicaraan yang
menyebut-nyebut namaku mulai terdengar di telingaku. Perbincangan yang sedikit
banyak membuat telingaku merasa risih. Ya, aku menjadi perbincangan di sekolah
karena kekonyolanku yang nekad masuk ekskul Paskibra sedangkan tinggi badanku
yang sangat tidak mumpuni. Aku merupakan anggota paling rendah dalam ekskul.
Awalnya hal ini tak ku hiraukan, bahkan aku hanya menganggap hal itu hanya kicauan
tak berarti yang keluar dari lidah orang-orang yang iri. Namun lama kelamaan
mereka semakin sporadis dalam membicarakannya bahkan terkesan menghina.
“Mana bisa kurcaci ngibarin bendera? Yang ada malah ikut ketarik
hahahaha” kata salah seorang siswa yang tak ku kenal.
Hinaan mereka semakin menjadi-jadi ketika aku
dengan percaya diri ikut mendaftar untuk tes seleksi Paskibra di tingkat Kabupaten.
“Udah tahu nggak bakalan lolos tapi masih nekat ikut seleksi” ucap
seorang senior.
“Mungkin dia mau nyari sensasi kali” sahut temannya yang lain.
Mendengar ucapan mereka yang semakin tak beretika membuatku sempat ingin
berontak. Namun hal itu urung kulakukan karena hanya akan membuat martabatku
semakin jatuh di mata orang-orang. Ini adalah mimpiku, mimpi yang akan kuwujudkan.
Dan semua cacian maupun hinaan mereka hanyalah sebagian dari rintangan yang
harus kulewati demi menggapai impianku ini.
Hanya Deni yang selalu menyemangatiku ketika
mendapatkan cacian dari orang-orang di sekolah. Tak jarang pula ia membelaku
saat ada yang secara terang-terangan mencibirku. Hal ini membuatku sedikit
merasa tenang karena masih ada yang mempercayaiku untuk menggapai mimpiku ini.
“Sudahlah Dim, mereka itu cuma iri dengan kegigihanmu. Tak perlu kau
hiraukan omongan orang-orang seperti itu” ucap Deni padaku.
“Terima kasih Den, kau memang sahabat terbaikku. Aku tak tahu apa
jadinya jika tidak ada kamu.”
“Jangan berlebihan begitu, kan sudah sepatutnya aku membela dan
menyemangati sahabatku. Ya kan?”
“Iya, sekali lagi terima kasih.”
Kepercayaan diriku ini pada awalnya masih
begitu besar hingga pada suatu hari dimana saat anggota Paskibra yang akan
mengikuti seleksi dikumpulkan dalam suatu ruangan. Saat itu telah berkumpul
para senior dan alumni yang cukup banyak.
“Maksud kami mengumpulkan kalian di ruangan ini adalah untuk mengumumkan
nama-nama yang akan ikut seleksi Paskibra di Kabupaten” ucap salah seorang
alumni. Seketika itu pula aku yang tengah memperhatikan menjadi tegang.
Kuperhatikan teman-teman yang lain juga memunculkan ekspresi yang sama
denganku. Anggota yang ada di ruangan saat itu hanya merupakan orang-orang yang
ikut mendaftar untuk mengikuti seleksi. Jadi tidak semua anggota berada di
ruangan tersebut.
Satu persatu nama
disebut, dan pada akhirnya sampailah pada masa ketika senior yang menyebutkan
nama tersebut berhenti. Seketika itu pula tatapan mata teman-teman yang ada di
ruangan tersebut tertuju padaku. Dari semua nama yang disebutkan hanya namaku
yang tidak disebut. Itu menandakan bahwa aku tidak terpilih untuk mengikuti
seleksi Paskibra di Kabupaten. Aku sempat menunduk menahan rasa kecewa dan malu
yang tercampur menjadi satu.
Seketika itu pula Deni menghampiriku dan berkata “kamu nggak apa-apa kan
Dim?”
“Iya, aku nggap apa-apa.”
Sontak beberapa ingatan tentang cibiran dan cacian dari orang-orang yang
selama ini menghinaku muncul. Seakan terjatuh dari ketinggian, aku akhirnya
secara perlahan menyadari bahwa perkataan mereka selama ini memang benar.
Dengan sedikit kecewa aku melanjutkan pembicaraanku dengan Deni.
“Mungkin apa yang orang-orang selama ini bicarakan memang benar, aku
tidak seharusnya berada di sini.”
“Maksudmu apa Dim? Jangan berbicara seperti itu. Kan masih ada tahun
depan” jawab Deni.
“Bukan begitu Den, aku baru sadar bahwa semua yang aku cita-citakan
selama ini sangat mustahil untuk terwujud. Impian yang begitu kudambakan sedari
dulu hanyalah sebatas mimpi yang tak mungkin terwujud.”
“Hanya segini perjuanganmu Dim? Aku kira kau lebih hebat dari ini,
ternyata aku salah.”
“Aku yang salah Den, aku terlalu percaya bahwa setiap orang bebas untuk
bermimpi. Aku kira semua mimpi bisa terwujud jika kita bersungguh-sungguh.
Namun ternyata aku telah salah, tetap saja aku tidak bisa melawan realita
kehidupan yang ada. Sekarang mimpiku hanyalah sebatas mimpi, tidak akan pernah
menjadi kenyataan.”
Dengan penuh kekesalan akupun meninggalkan ruangan. Tak ada yang
mencegatku, mungkin mereka sadar bahwa hal ini cukup membuatku kecewa.
Kembali aku teringat
perkataan beberapa motivator maupun pembicara di televisi yang biasa ku tonton,
mereka dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa setiap impian bisa terwujud jika
kita bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Dan sekarang aku menyadari bahwa
hal itu hanya bualan belaka. Mungkin mereka tak pernah mengalami nasib seperti
yang aku rasakan saat ini. Sebuah mimpi yang begitu aku dambakan dan begitu
kuperjuangkan untuk bisa terwujud, akhirnya kandas hanya karena faktor fisik.
Bisa jadi selama ini aku telah terhipnotis akan suatu keinginan semu semata.
Hingga akhirnya sekarang aku baru tersadarkan dari pengaruh hipnotis tersebut.
Jika aku menyadari dari
awal tentu aku tak akan dicemooh oleh orang lain. Aku terlambat menyadari bahwa
segala sesuatu yang ingin digapai tetap memiliki syarat yang harus dipenuhi.
Jika salah satu syarat tersebut tak mampu dilaksanakan maka terkubur sudah
harapan untuk menggapainya.
Negara ini telah mampu
merdeka dari para penjajah, namun ternyata hal itu tak berpengaruh padaku dan
mungkin sebagian orang-orang lain yang bernasib sama sepertiku. Impianku
ternyata tak semerdeka negaraku. Setiap orang yang memiliki mimpi suatu saat
akan menyadari bahwa mimpi mereka akan terkekang oleh beberapa peraturan yang
tak bisa mereka lawan. Kemudian secara perlahan orang-orang itu akan mengubur
mimpi mereka dalam-dalam. Mimpi mereka terjajah oleh aturan-aturan yang telah
dibuat dan menyebabkan mereka patah sayap sehingga mereka tak mampu terbang untuk
menggapai mimpinya. Jika saja pada masa penjajahan dulu setiap orang memiliki
aturan tentang siapa saja yang boleh dan tidak boleh untuk berjuang, mungkin
hingga saat ini kemerdekaan belum bisa dirasakan oleh seluruh bangsa ini.
Doyot, 6 agustus 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar