Kamis, 10 Agustus 2017

Cerita Rakyat Asli Dari Kabupaten Bengkayang (Desa Magmagan Karya Kec. Lumar)

Batu Tangguk
oleh: Hafizly
Dahulu kala, di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri yang dikenal dengan sebutan Pak Galeh dan Bu Galeh. Pak Galeh merupakan orang yang ulet dan gigih dalam bekerja. Keuletannya ini sudah terlihat sejak dia remaja sehingga banyak orang yang mengagumi Pak Galeh karena kegigihannya dalam bekerja tersebut. Begitupun Bu Galeh, ia juga merupakan seorang wanita sekaligus istri yang berbakti kepada suami. Hampir setiap hari Bu Galeh selalu setia merawat dan membantu suaminya bekerja.
Dalam kesehariannya mereka hanyalah orang biasa yang bekerja sebagai petani. Namun karena keuletannya dalam bekerja, kehidupan Pak Galeh dan Bu Galeh terbilang makmur. Mereka memiliki kebun dan sawah yang luas sehingga pendapatan mereka pada saat musim panen sangat melimpah.
Dibalik kesuksesan Pak Galeh dan Bu galeh tersebut, ada hal yang dirasakan kurang bagi mereka. Pak Galeh dan Bu Galeh tidak dikaruniai anak walaupun mereka telah lumayan lama menikah. Terkadang terbesit di benak Pak Galeh untuk mengangkat anak karena kerinduannya yang mendalam akan kehadiran sosok seorang anak dalam hidupnya. “Apakah mungkin ada orang yang mau memberikan anaknya untuk diangkat olehku?” gumamnya dalam hati.
Pada suatu malam Pak Galeh mengeluh kepada istrinya akan keadaan yang dialaminya ini. “Mungkihkah Tuhan tidak menyayangi kita Bu? Padahal sudah setiap hari aku berdo’a agar kita diberikan anak, tapi sampai sekarang tidak juga kita dikaruniai anak ”ucap Pak Galeh dengan nada kesal. “Iya pak, aku juga berpikir begitu. Mungkin Tuhan memang tidak menyayangi kita” timpal istrinya. Keresahan yang dirasakan oleh pasangan suami istri ini justru membuat mereka membenci Tuhan dan menyalahkan keadaan. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini sangat tidak adil bagi mereka berdua.
Karena keadaan yang seperti itu pula akhirnya membuat sikap Pak Galeh dan istrinya menjadi berubah kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka jadi mudah tersinggung dan menganggap bahwa setiap orang di desa selalu mencemooh mereka karena tidak memiliki anak. Orang-orang di desa yang awalnya biasa-biasa saja akhirnya merasakan ada keanehan pada pasangan suami istri ini. Padahal sebelumnya mereka berdua lumayan ramah terhadap para tetangganya. Bahkan sekarang sikap Pak Galeh dan Bu Galeh justru acuh dan tak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mereka jadi tidak mau bergaul dan tidak mau mendengarkan nasihat atau masukan dari orang lain. Akhirnya mereka berduapun mengasingkan diri dari kehidupan luar.
Pada suatu hari, Bu galeh mendapatkan kabar bahwa ada suatu tempat yang dikatakan angker dan di sana terdapat penunggu yang bisa mengabulkan permintaan apapun. Tempat itu terdapat di ujung sungai yang letaknya di dalam hutan. Begitu mendengarkan kabar yang masih belum pasti tersebut Bu Galeh sangat antusias dan bergegas untuk memberitahukan suaminya. “Pak! Bapak!” teriak Bu Galeh. “Iya Bu, ada apa?” sahut Pak Galeh. “Begini Pak, tadi Ibu tidak sengaja mendengarkan cerita dari orang-orang kampung bahwa di ujung sungai yang ada di hutan itu ada penunggu yang katanya bisa mengabulkan permintaan apa saja Pak”. “Benarkah begitu Bu?” jawab Pak Galeh sambil sedikit terkejut. “Apakah Bapak memikirkan hal yang sama dengan Ibu?” tanya Bu Galeh kembali. “Tentu saja Bu, kalau begitu berarti ada harapan bagi kita untuk mendapatkan anak dengan pergi ke sana”, jawab Pak Galeh. Dengan hati yang penuh harapan merekapun akhirnya menyiapkan diri untuk berangkat keesokan harinya.
Malam harinya Pak Galeh berpikir untuk sekalian mencari ikan di sungai tersebut karena di sungai tersebut memang terkenal memiliki ikan yang banyak dan besar. Kemudian dia bertanya kepada istrinya mengenai rencananya tersebut, “Bu, bagaimana jika besok sekalian kita membawa tangguk[1]untuk menangkap ikan di sungai itu?”. “Tapi Pak, kata orang-orang sungai itu angker dan kita tidak boleh menangkap ikan yang ada di disitu”, jawab Bu Galeh. “Ibu masih percaya sama perkataan orang-orang kampung yang sudah merendahkan kita itu? Sudah jangan didengarkan, yang penting kita bisa punya anak sekaligus bisa dapat ikan yang banyak untuk makan kita nanti”, Pak Galeh meyakinkan. Setelah berpikir sejenak akhirnya Bu Galeh menyetujui ajakan suaminya tersebut.
Keesokan harinya, ketika matahari belum sempat menyinari bumi dan ayam belum sempat berkokok, Pak Galeh dan istrinya telah terjaga dari tidurnya dengan hati yang gembira untuk menyiapkan perbekalan dan persiapan barang-barang yang akan mereka bawa menuju ujung sungai nanti. Perjalanan yang jauh tidak dipikirkan oleh mereka karena kepala mereka sudah dipenuhi oleh keinginan yang besar untuk memiliki anak. Tanpa berlama-lama merekapun akhirnya berangkat dengan membawa bekal dan tangguk untuk menangkap ikan. Walaupun hari masih gelap, mereka tetap melangkahkan kaki dengan penuh semangat tanpa menghiraukan larangan-larangan yang dikatakan oleh warga kampung.
Setelah berjalan cukup jauh, pasangan suami istri tersebut akhirnya sampai di ujung sungai. Belum sempat mereka beristirahat, perhatian mereka tertuju pada sungai yang di dalamnya terdapat begitu banyak ikan yang besar-besar dan jumlahnya sangat banyak. Seketika hal itu membuat keduanya menjadi kalap dan langsung turun ke sungai untuk menangkap semua ikan yang ada. Mereka tidak lagi mempedulikan larangan yang ada di tempat tersebut. Tempat yang merupakan hutan adat dan telah menjadi tempat keramat sejak lama mereka abaikan dan justru dengan tamak menangkap ikan di sungai tersebut.
Ketika telah mendapatkan ikan yang banyak Pak Galeh dan Bu Galeh segera naik ke permukaan dan dengan hati yang senang mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat hasil tangkapan mereka. Mereka lupa bahwa mereka telah melanggar hukum adat di tempat yang telah dikeramatkan sejak lama. Tak lama, langit menjadi gelap dan disertai dengan petir yang menggelegar. Setelah itu datanglah sebuah petir yang dahsyat yang menghantam Pak Galeh dan Bu Galeh. Seketika itu pula kedua suami istri itu langsung menjadi batu dengan posisi masih memegang tangguk yang mereka gunakan untuk menangkap ikan tadi. Akhirnya sampai saat ini patung kedua suami istri tersebut masih ada di daerah Desa Magmagan Karya. Kemudian sungai tempat patung itu berada dikenal sebagai Sungai Segaleh. Begitu juga patung Pak Galeh dan Bu Galeh juga disebut orang-orang sebagai Batu Tangguk.





[1] Alat untuk menangkap ikan yang dibuat dari anyaman bambu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar