Batu Tangguk
oleh: Hafizly
Dahulu kala, di sebuah desa hiduplah sepasang suami istri yang dikenal
dengan sebutan Pak Galeh dan Bu Galeh. Pak Galeh merupakan orang yang ulet dan
gigih dalam bekerja. Keuletannya ini sudah terlihat sejak dia remaja sehingga banyak
orang yang mengagumi Pak Galeh karena kegigihannya dalam bekerja tersebut.
Begitupun Bu Galeh, ia juga merupakan seorang wanita sekaligus istri yang
berbakti kepada suami. Hampir setiap hari Bu Galeh selalu setia merawat dan
membantu suaminya bekerja.
Dalam kesehariannya mereka hanyalah orang biasa yang bekerja sebagai
petani. Namun karena keuletannya dalam bekerja, kehidupan Pak Galeh dan Bu
Galeh terbilang makmur. Mereka memiliki kebun dan sawah yang luas sehingga
pendapatan mereka pada saat musim panen sangat melimpah.
Dibalik kesuksesan Pak Galeh dan Bu galeh tersebut, ada hal yang
dirasakan kurang bagi mereka. Pak Galeh dan Bu Galeh tidak dikaruniai anak
walaupun mereka telah lumayan lama menikah. Terkadang terbesit di benak Pak
Galeh untuk mengangkat anak karena kerinduannya yang mendalam akan kehadiran
sosok seorang anak dalam hidupnya. “Apakah mungkin ada orang yang mau
memberikan anaknya untuk diangkat olehku?” gumamnya dalam hati.
Pada suatu malam Pak Galeh mengeluh kepada istrinya akan keadaan yang
dialaminya ini. “Mungkihkah Tuhan tidak menyayangi kita Bu? Padahal sudah
setiap hari aku berdo’a agar kita diberikan anak, tapi sampai sekarang tidak
juga kita dikaruniai anak ”ucap Pak Galeh dengan nada kesal. “Iya pak, aku juga
berpikir begitu. Mungkin Tuhan memang tidak menyayangi kita” timpal istrinya.
Keresahan yang dirasakan oleh pasangan suami istri ini justru membuat mereka
membenci Tuhan dan menyalahkan keadaan. Mereka menganggap bahwa kehidupan ini
sangat tidak adil bagi mereka berdua.
Karena keadaan yang seperti itu pula akhirnya membuat sikap Pak Galeh
dan istrinya menjadi berubah kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka jadi
mudah tersinggung dan menganggap bahwa setiap orang di desa selalu mencemooh
mereka karena tidak memiliki anak. Orang-orang di desa yang awalnya biasa-biasa
saja akhirnya merasakan ada keanehan pada pasangan suami istri ini. Padahal
sebelumnya mereka berdua lumayan ramah terhadap para tetangganya. Bahkan
sekarang sikap Pak Galeh dan Bu Galeh justru acuh dan tak peduli terhadap lingkungan
sekitarnya. Mereka jadi tidak mau bergaul dan tidak mau mendengarkan nasihat
atau masukan dari orang lain. Akhirnya mereka berduapun mengasingkan diri dari
kehidupan luar.
Pada suatu hari, Bu galeh mendapatkan kabar bahwa ada suatu tempat yang
dikatakan angker dan di sana terdapat penunggu yang bisa mengabulkan permintaan
apapun. Tempat itu terdapat di ujung sungai yang letaknya di dalam hutan.
Begitu mendengarkan kabar yang masih belum pasti tersebut Bu Galeh sangat
antusias dan bergegas untuk memberitahukan suaminya. “Pak! Bapak!” teriak Bu
Galeh. “Iya Bu, ada apa?” sahut Pak Galeh. “Begini Pak, tadi Ibu tidak sengaja
mendengarkan cerita dari orang-orang kampung bahwa di ujung sungai yang ada di
hutan itu ada penunggu yang katanya bisa mengabulkan permintaan apa saja Pak”.
“Benarkah begitu Bu?” jawab Pak Galeh sambil sedikit terkejut. “Apakah Bapak
memikirkan hal yang sama dengan Ibu?” tanya Bu Galeh kembali. “Tentu saja Bu,
kalau begitu berarti ada harapan bagi kita untuk mendapatkan anak dengan pergi
ke sana”, jawab Pak Galeh. Dengan hati yang penuh harapan merekapun akhirnya
menyiapkan diri untuk berangkat keesokan harinya.
Malam harinya Pak Galeh berpikir untuk sekalian mencari ikan di sungai
tersebut karena di sungai tersebut memang terkenal memiliki ikan yang banyak
dan besar. Kemudian dia bertanya kepada istrinya mengenai rencananya tersebut,
“Bu, bagaimana jika besok sekalian kita membawa tangguk[1]untuk
menangkap ikan di sungai itu?”. “Tapi Pak, kata orang-orang sungai itu angker
dan kita tidak boleh menangkap ikan yang ada di disitu”, jawab Bu Galeh. “Ibu
masih percaya sama perkataan orang-orang kampung yang sudah merendahkan kita
itu? Sudah jangan didengarkan, yang penting kita bisa punya anak sekaligus bisa
dapat ikan yang banyak untuk makan kita nanti”, Pak Galeh meyakinkan. Setelah
berpikir sejenak akhirnya Bu Galeh menyetujui ajakan suaminya tersebut.
Keesokan harinya, ketika matahari belum sempat menyinari bumi dan ayam
belum sempat berkokok, Pak Galeh dan istrinya telah terjaga dari tidurnya
dengan hati yang gembira untuk menyiapkan perbekalan dan persiapan
barang-barang yang akan mereka bawa menuju ujung sungai nanti. Perjalanan yang
jauh tidak dipikirkan oleh mereka karena kepala mereka sudah dipenuhi oleh
keinginan yang besar untuk memiliki anak. Tanpa berlama-lama merekapun akhirnya
berangkat dengan membawa bekal dan tangguk
untuk menangkap ikan. Walaupun hari masih gelap, mereka tetap melangkahkan kaki
dengan penuh semangat tanpa menghiraukan larangan-larangan yang dikatakan oleh
warga kampung.
Setelah berjalan cukup jauh, pasangan suami istri tersebut akhirnya
sampai di ujung sungai. Belum sempat mereka beristirahat, perhatian mereka
tertuju pada sungai yang di dalamnya terdapat begitu banyak ikan yang
besar-besar dan jumlahnya sangat banyak. Seketika hal itu membuat keduanya
menjadi kalap dan langsung turun ke sungai untuk menangkap semua ikan yang ada.
Mereka tidak lagi mempedulikan larangan yang ada di tempat tersebut. Tempat
yang merupakan hutan adat dan telah menjadi tempat keramat sejak lama mereka
abaikan dan justru dengan tamak menangkap ikan di sungai tersebut.
Ketika telah mendapatkan ikan yang banyak Pak Galeh dan Bu Galeh segera
naik ke permukaan dan dengan hati yang senang mereka berdua tertawa
terbahak-bahak melihat hasil tangkapan mereka. Mereka lupa bahwa mereka telah
melanggar hukum adat di tempat yang telah dikeramatkan sejak lama. Tak lama,
langit menjadi gelap dan disertai dengan petir yang menggelegar. Setelah itu
datanglah sebuah petir yang dahsyat yang menghantam Pak Galeh dan Bu Galeh.
Seketika itu pula kedua suami istri itu langsung menjadi batu dengan posisi
masih memegang tangguk yang mereka
gunakan untuk menangkap ikan tadi. Akhirnya sampai saat ini patung kedua suami
istri tersebut masih ada di daerah Desa Magmagan Karya. Kemudian sungai tempat
patung itu berada dikenal sebagai Sungai Segaleh. Begitu juga patung Pak Galeh
dan Bu Galeh juga disebut orang-orang sebagai Batu Tangguk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar